Skip to main content

Posts

Biarkan Twitter Saya Anonim Selamanya

Tahun 2012, pertama kali punya akun Twitter serius. Serius, maksudnya dipake buat interaksi sama orang lain dengan interest yang sama yaitu KPOP (miss those glorious dayssss).  Been a fan of 2NE1 & Bigbang since 2010~2011. Dulu ngestan dua grup ini dapat info dari Facebook. Tapi, karena kayaknya ngerasa kurang update, beralih ke Twitter.  Sayangnya akun Twitter itu udah hilang selamanya karena pas daftar masih di bawah umur, hahahaha. Terus terlambat appeal ke Twitter jadinya ilang deh. Padahal semua emosi bocah tertampung di sana dan tentunya, my memories jadi fangirl 24/7!  Aku juga sempat vakum main Twitter sampai tahun 2020, Twitter jadi mulai lumayan terkenal lagi. Aku buat akun baru dengan username yang jelas bukan nama asli. Sepertinya kebawa karena dulu emang jaman fangirling nggak pernah pake nama asli.  Sekian lama nggak main Twitter, mulai follow akun-akun KPOP, drama, film, dan interest lainnya. Saat itu juga punya tekad mau main Twitter untuk nambah ...

Orang-orang (Akan) Berubah

Draft tulisan ini udah aku tulis dari Januari lalu. Rasa malas tiba-tiba merasuk, draftnya terbengkalai pada akhirnya. Terus beberapa hari lalu nonton The Banshees in Inisherin, salah satu film yang terima banyak nominasi Oscars. Nontonnya di Disney+.  Pas banget topik yang diangkat di film itu nggak jauh dari apa yang aku tulis di draft ini. Orang-orang (akan) berubah  just like people in Inisherin. Btw, title tulisan ini sejak awal aku sudah pikirkan & difinalisasi bahkan sebelum menuliskan isinya.  Okay, post ini nggak akan membahas review filmnya. Kalau pengen baca reviewku, bisa ke IG @grishiella lalu klik highlight 'ulasan'. Selain review The Banshees in Inisherin, ada juga beberapa judul film, drama, variety show yang aku sudah tonton. Makasih udah mampir, ya!  Anyway, kembali ke topik pembahasan.  Draft kasar tentang tulisan ini sebenarnya adalah hasil renungan tentang bagaimana orang berubah. Berubah di sini artinya bisa saja personality mereka beru...

Resolusi 2023: Lebih Spesifik Tapi Realistis

Ada yang merasa tahun 2022 itu berjalan sangat cepat? Aku pribadi ngerasa demikian. Perasaan baru bulan Januari liburan semester, tiba-tiba udah Juli persiapan acara kampus. Eh, ga kerasa udah Desember aja. Apa itu tandanya I actually enjoyed it? As I said in the previous post , 2022 actually wasn't the best year tapi mayan berkesan. Sekarang udah masuk 2023, yang artinya ada banyak plan & resolusi yang harus disusun dan tentu saja dilakukan.  Tahun-tahun sebelumnya yang selalu ada di resolusi awal tahun adalah be grateful & happier. Udah itu aja. Gak mau muluk-muluk karena takut ga konsisten dan jadi kecewa. Tapi tahun ini entah kenapa pengen more specific. Pengen syukuri apa aja sih di tahun ini? Mau lebih happy di bagian mana? Setelah pikir-pikir beberapa saat, akhirnya tau ingin dan akan apa. Tentu saja tetap realistis.  Pertama, I want to be healthier.  BB naik pas pandemik adalah suatu yang tidak bisa dihindari bagi diri ini. Saya bukan orang yang atletis ...

What Happened in 2022?

Tahun 2022 adalah tahun tanpa menulis blog. Nggak ada tulisan yang kuhasilkan. Well, nggak heran. I was so busy with academic & work life. 2022 dihabiskan mostly dengan pergulatan batin di semester 2 & 3, yang artinya pusing menyelesaikan tugas kuliah & seminar proposal. Serta kerjaan-kerjaan lain yang cukup menguras waktu.  Kuliah daring ternyata bukan hal yang mudah. Kerap kali aku lost focus saat kelas. Belum lagi kurangnya feeling sosialiasi dengan teman angkatan. Mostly mereka emang warga Jogja atau udah pada ngekos di Jogja. Sedangkan diri ini masih jauh di Surabaya menyelesaikan semua keperluan hidup.  2022 juga jadi tahun akhirnya tinggal sendiri & mandiri lagi. Sebenarnya mulai dari November 2021 sih. Pas balik dari Kendari ke Surabaya, kuputuskan dengan matang untuk ngekos lagi. Finally I got the freedom again. Terus aku juga resmi jadi babu dari 1 anabul ganteng bernama Miau-Miau. Aku rawat dia dari Oktober 2021. Udah sekitar setahunan, dia jadi kuci...

Lolos TPA PAPs UGM Skor 550+ dalam 1,5 Bulan

Jika kamu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tingkat magister dan doktoral di Universitas Gadjah Mada, maka kamu akan bertemu dengan sebuah persyaratan yaitu skor TPA. TPA atau Tes Potensi Akademik adalah sebuah tes yang dilakukan untuk menguji kemampuan seseorang yang biasanya dilihat dari empat sub tes: Verbal, Angka, Logika, Spasial/Gambar. Sepengetahuanku, TPA biasanya hanya akan terdiri dari sub-sub tes di atas. Terutama bagi TPA jenis tes PAPs (Potensi Akademik Pascasarjana). Berhubung TPA yang aku ikuti hanyalah PAPs maka aku akan lebih menjelaskan apa pun yang berhubungan dengannya. Kebetulan aku perlu skor dan sertifikat PAPs untuk memenuhi pendaftaran di gelombang 2 semester gasal 2021/2022. Jadi, aku akan membagikan pengalamanku mengikuti tes PAPs dalam masa-masa pendaftaran semester gasal saja, yap. Apa itu PAPs? PAPs adalah tes potensi akademik yang diperuntukkan bagi calon pendaftar program pascasarjana (magister dan doktoral) UGM dan pertama kali diluncurkan o...

#Petualangan: Mencari Universitas hingga Mendaratkan Pilihan di UGM

Sejak berkenalan dengan dunia per-Korea-an satu dekade silam, lambat laun timbul keinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di sana. Pikiran itu tercetus kala masih di kelas X atau 1 SMA. Pikiran yang berubah menjadi rencana jangka panjang itu akhirnya tersusun begitu saja, dengan target bahwa aku akan melaksanakannya di tahun 2025 aka 4 tahun pasca bergelar sarjana. Kenapa nggak langsung lanjut untuk S-1? Alasannya sebenarnya sederhana, aku perlu persiapan matang. Tujuanku kuliah di Korea bukan sekadar dapat gelar-pulang, tapi ingin sampai membangun karier juga di sana. Di luar itu, finansial yang gak mungkin mampu (walau ada beasiswa juga tetap harus bayar ini-itu buat pendaftaran), aku juga gak bisa langsung melanjutkan S-1 seperti itu. Apalagi diri ini bukan domisili Jawa yang akses mudah. Jadi keliatannya memang kendalanya sudah paling jelas adalah finansial. Dengan mengambil S-1 di Indonesia, aku juga udah merasa puas. Sembari mematangkan bahasa Korea juga dan mencari informas...

'Istirahat' Terpanjang

Istirahat terpanjang selama hidupku mungkin terjadi di tahun 2021. Bulan Desember 2020 aku sudah menyelesaikan kewajiban menuntaskan skripsi dan tinggal menunggu sidang. Bisa dibilang, sejak saat itu ‘istirahat’ itu dimulai; karena aku jadi nggak punya kegiatan belajar-mengajar seperti biasanya. Penghujung 2020 aku dapat pekerjaan lepas pertama untuk menulis di sebuah situs web perusahaan. Aku terima karena upahnya cocok dan nggak ada aktivitas lain selain menunggu sidang dan revisi. Dengan pekerjaan ini juga, aku pikir bagus jadi tempat buat mengembangkan portfolio tulisan, toh nanti setelah yudisium aku udah bisa ngelamar kerja. Pekerjaanku sebenarnya nggak gitu kompleks karena aku bisa bekerja dari rumah aka WFH plus target tulisan yang diberikan juga nggak banyak. Artinya, dalam satu minggu aku bisa mengembangkan tulisanku dan menyetornya ke atasan, plus beberapa waktu untuk menunggu balasan dan revisi. Aku bisa jadi punya banyak waktu berlebih dari sana, dan nggak kupungkiri, ...