Skip to main content

Posts

Resolusi 2023: Lebih Spesifik Tapi Realistis

Ada yang merasa tahun 2022 itu berjalan sangat cepat? Aku pribadi ngerasa demikian. Perasaan baru bulan Januari liburan semester, tiba-tiba udah Juli persiapan acara kampus. Eh, ga kerasa udah Desember aja. Apa itu tandanya I actually enjoyed it? As I said in the previous post , 2022 actually wasn't the best year tapi mayan berkesan. Sekarang udah masuk 2023, yang artinya ada banyak plan & resolusi yang harus disusun dan tentu saja dilakukan.  Tahun-tahun sebelumnya yang selalu ada di resolusi awal tahun adalah be grateful & happier. Udah itu aja. Gak mau muluk-muluk karena takut ga konsisten dan jadi kecewa. Tapi tahun ini entah kenapa pengen more specific. Pengen syukuri apa aja sih di tahun ini? Mau lebih happy di bagian mana? Setelah pikir-pikir beberapa saat, akhirnya tau ingin dan akan apa. Tentu saja tetap realistis.  Pertama, I want to be healthier.  BB naik pas pandemik adalah suatu yang tidak bisa dihindari bagi diri ini. Saya bukan orang yang atletis ...

What Happened in 2022?

Tahun 2022 adalah tahun tanpa menulis blog. Nggak ada tulisan yang kuhasilkan. Well, nggak heran. I was so busy with academic & work life. 2022 dihabiskan mostly dengan pergulatan batin di semester 2 & 3, yang artinya pusing menyelesaikan tugas kuliah & seminar proposal. Serta kerjaan-kerjaan lain yang cukup menguras waktu.  Kuliah daring ternyata bukan hal yang mudah. Kerap kali aku lost focus saat kelas. Belum lagi kurangnya feeling sosialiasi dengan teman angkatan. Mostly mereka emang warga Jogja atau udah pada ngekos di Jogja. Sedangkan diri ini masih jauh di Surabaya menyelesaikan semua keperluan hidup.  2022 juga jadi tahun akhirnya tinggal sendiri & mandiri lagi. Sebenarnya mulai dari November 2021 sih. Pas balik dari Kendari ke Surabaya, kuputuskan dengan matang untuk ngekos lagi. Finally I got the freedom again. Terus aku juga resmi jadi babu dari 1 anabul ganteng bernama Miau-Miau. Aku rawat dia dari Oktober 2021. Udah sekitar setahunan, dia jadi kuci...

Lolos TPA PAPs UGM Skor 550+ dalam 1,5 Bulan

Jika kamu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tingkat magister dan doktoral di Universitas Gadjah Mada, maka kamu akan bertemu dengan sebuah persyaratan yaitu skor TPA. TPA atau Tes Potensi Akademik adalah sebuah tes yang dilakukan untuk menguji kemampuan seseorang yang biasanya dilihat dari empat sub tes: Verbal, Angka, Logika, Spasial/Gambar. Sepengetahuanku, TPA biasanya hanya akan terdiri dari sub-sub tes di atas. Terutama bagi TPA jenis tes PAPs (Potensi Akademik Pascasarjana). Berhubung TPA yang aku ikuti hanyalah PAPs maka aku akan lebih menjelaskan apa pun yang berhubungan dengannya. Kebetulan aku perlu skor dan sertifikat PAPs untuk memenuhi pendaftaran di gelombang 2 semester gasal 2021/2022. Jadi, aku akan membagikan pengalamanku mengikuti tes PAPs dalam masa-masa pendaftaran semester gasal saja, yap. Apa itu PAPs? PAPs adalah tes potensi akademik yang diperuntukkan bagi calon pendaftar program pascasarjana (magister dan doktoral) UGM dan pertama kali diluncurkan o...

#Petualangan: Mencari Universitas hingga Mendaratkan Pilihan di UGM

Sejak berkenalan dengan dunia per-Korea-an satu dekade silam, lambat laun timbul keinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di sana. Pikiran itu tercetus kala masih di kelas X atau 1 SMA. Pikiran yang berubah menjadi rencana jangka panjang itu akhirnya tersusun begitu saja, dengan target bahwa aku akan melaksanakannya di tahun 2025 aka 4 tahun pasca bergelar sarjana. Kenapa nggak langsung lanjut untuk S-1? Alasannya sebenarnya sederhana, aku perlu persiapan matang. Tujuanku kuliah di Korea bukan sekadar dapat gelar-pulang, tapi ingin sampai membangun karier juga di sana. Di luar itu, finansial yang gak mungkin mampu (walau ada beasiswa juga tetap harus bayar ini-itu buat pendaftaran), aku juga gak bisa langsung melanjutkan S-1 seperti itu. Apalagi diri ini bukan domisili Jawa yang akses mudah. Jadi keliatannya memang kendalanya sudah paling jelas adalah finansial. Dengan mengambil S-1 di Indonesia, aku juga udah merasa puas. Sembari mematangkan bahasa Korea juga dan mencari informas...

'Istirahat' Terpanjang

Istirahat terpanjang selama hidupku mungkin terjadi di tahun 2021. Bulan Desember 2020 aku sudah menyelesaikan kewajiban menuntaskan skripsi dan tinggal menunggu sidang. Bisa dibilang, sejak saat itu ‘istirahat’ itu dimulai; karena aku jadi nggak punya kegiatan belajar-mengajar seperti biasanya. Penghujung 2020 aku dapat pekerjaan lepas pertama untuk menulis di sebuah situs web perusahaan. Aku terima karena upahnya cocok dan nggak ada aktivitas lain selain menunggu sidang dan revisi. Dengan pekerjaan ini juga, aku pikir bagus jadi tempat buat mengembangkan portfolio tulisan, toh nanti setelah yudisium aku udah bisa ngelamar kerja. Pekerjaanku sebenarnya nggak gitu kompleks karena aku bisa bekerja dari rumah aka WFH plus target tulisan yang diberikan juga nggak banyak. Artinya, dalam satu minggu aku bisa mengembangkan tulisanku dan menyetornya ke atasan, plus beberapa waktu untuk menunggu balasan dan revisi. Aku bisa jadi punya banyak waktu berlebih dari sana, dan nggak kupungkiri, ...

#Kontemplasi: 402 Hari Bersama Blog

Kontemplasi. Kata yang sering aku temui di sosial media beberapa waktu yang lalu. Biasanya berisi semacam ‘renungan’ mengenai hari yang telah dilewati, atau urusan yang telah sukses, atau bahkan tentang permasalahan-permasalahan individu yang makin suram tiap harinya. Terkadang ketika aku membaca tulisan kontemplasi orang-orang tersebut, aku ikut hanyut pada isinya meski berbeda dari satu dan lainnya, dengan menyesuaikan substansi kontemplasi   yang dirancang. Pada akhirnya aku menemukan kesimpulan kalau setiap orang pasti punya ceritanya yang ingin disebarkan, ingin orang lain dengarkan, atau hanya sekadar memulihkan perasaan yang terasa bolong. Di waktu aku memutuskan akan menulis draft tulisan ini, aku tidak langsung tertuju pada pilihan kata ‘kontemplasi’ melainkan ‘refleksi’. Kata ini sangat dekat denganku, apalagi membicarakan perkara ‘renungan’. Hubunganku dengan refleksi ini seringnya makin erat menjelang hari-hari akhir rekoleksi atau ret-ret. Biasanya peserta rekole...

I Am Trying to be Honest

I was born in too diverse family, sometimes they were religious, sometimes they weren't. I witnessed my maternal grandmother went to church every Sunday, sometimes with me or my sister. Meanwhile, my paternal grandpa was a devout Buddhist. He went to Vihara twice a month, or when a special event/sermon took place. I recalled it clearly, how I attended Buddhist prayer more often than Catholic's, even though it was my parents' religion.  I was not given proper religious source in my childhood, even though I attended Catholic pre-school, primary school, and secondary school. When I asked my mom what her reason was, she stated that "Catholic private school conducts classes in Catholic beliefs, and I assure you could get the Catholic lesson there."  Both of my parents are believer; my mom is Catholic since birth, and my dad was Catholic, then converted to Christian a decade ago. My dad is religious, devout, and regular attendee of the Christian church since he converte...